Pelopor.id | Melonjaknya angka kasus Covid-19 membuat Pemerintah Tiongkok menerapkan sejumlah langkah antisipasi yang ketat. Hal itupun langsung berdampak pada aktivitas pabrik di Tiongkok hingga akhirnya Januari ini mengalami kontraksi paling tajam dalam 23 bulan terakhir.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Caixin turun menjadi 49,1 pada Januari 2022, level terendah sejak Februari 2020 pada awal pandemi, seperti dilansir dari Reuters. Sementara itu, sub-indeks untuk produksi pabrik berada di level 48,4, turun dari 52,7 pada Desember lalu.
“Dari Desember hingga Januari, kebangkitan Covid-19 di beberapa wilayah termasuk Xian dan Beijing, memaksa pemerintah daerah memperketat tindakan pengendalian epidemi, yang membatasi produksi, transportasi dan penjualan barang-barang manufaktur,” ujar Ekonom Senior Caixin Insight Group Wang Zhe.
Hal ini kemungkinan akan memperkuat ekspektasi pasar bahwa pembuat kebijakan perlu meluncurkan lebih banyak langkah dukungan untuk menstabilkan ekonomi. Bank sentral Tiongkok, People’s Bank of China, sudah mulai memotong suku bunga dan mengalirkan lebih banyak uang tunai ke sistem keuangan untuk menurunkan biaya pinjaman.
Lonjakan kasus Covid-19 sejak akhir tahun lalu di pusat manufaktur Xian telah membuat banyak produsen mobil dan chip terpaksa menutup operasinya, meskipun produksi secara bertahap kembali normal ketika kota itu keluar dari penguncian atau lockdown.
The International Monetary Fund (IMF) pun memangkas perkiraan untuk pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2022 menjadi 4,8%, dari sebelumnya 5,6%, yang mencerminkan pukulan terhadap konsumsi dari pembatasan ketat virus corona. []
Baca juga: WHO Sebut Omicron Mungkin Akhir dari Pandemi Covid-19












