Setelah Diperintah Bongkar 39 Bangunan di Hainan, Evergrande Juga Stop Perdagangan Sahamnya di Hong Kong

0
Evergrande
Evergrande. (Foto: Pelopor.id/Ist)

Pelopor.id – Evergrande ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah akhir pekan lalu diperintahkan untuk menghancurkan 39 bangunan oleh pihak berwenang di Pulau Hainan lantaran disebut dibangun secara ilegal.

Kali ini, mereka mengumumkan penangguhkan perdagangan sahamnya di Bursa Hong Kong, sebelum menyampaikan kemungkinan aksi korporasi.

Raksasa pengembang properti asal Tiongkok itu terkendala upaya pemerintahnya untuk mengekang utang yang berlebihan di sektor real estat, serta maraknya spekulasi konsumen.

Evergrande saat ini, tengah berjuang sekuat tenaga untuk membayar kewajibannya sebesar US$ 300 miliar kepada pemegang obligasi dan investor. Penyebab utang fantastis ini lantaran tindakan keras pemerintah Tiongkok yang tiba-tiba mematikan keran likuiditas.

“Atas permintaan perseroan, perdagangan saham perseroan dihentikan pada pukul 09.00 pada 3 Januari 2022 menunggu rilis pengumuman oleh perusahaan yang berisi informasi orang dalam,” sebut grup itu dalam sebuah pernyataan singkat di bursa saham Hong Kong, Senin (3/1/2021).

Sebelumnya Evergrande sempat melakukan penghentian perdagangan saham, kemudian memulai kembali pada Oktober 2021. Pengembang bermasalah ini juga telah dicap gagal bayar (default) oleh lembaga-lembaga pemeringkat internasional bulan lalu, setelah gagal membayar kewajiban tepat waktu.

Meski demikian, Evergrande pada pekan lalu sejenak menyemangati investor dengan mengatakan bersikeras akan mampu merampungkan serah terima puluhan ribuan unit properti bulan ini, dan melunasi beberapa utang.

Namun dengan usaha tersebut, sahamnya masih turun pada akhir pekan lalu, setelah laporan bahwa grup tersebut gagal memenuhi dua lagi pembayaran bunga obligasi luar negeri.

Evergrande dalam beberapa bulan terakhir, juga telah berulang kali mengatakan akan menyelesaikan proyek yang belum selesai dan merampungkan serah terima kepada pembeli. Upaya tersebut untuk menyelamatkan perusahaan dari utangnya, meskipun telah melewatkan pembayaran untuk lebih dari US$ 1,2 miliar. []