Pelopor.id | Masalah utang Evergrande Group dan sejumlah developer Tiongkok lainnya tak hanya berdampak pada sektor properti, tapi juga mulai mempengaruhi industri baja Negeri Tirai Bambu. Perlambatan di sektor real estat telah mengurangi produksi baja mentah bulanan Tiongkok lebih dari 20% sejak September.
Sejak awal tahun ini, harga baja memang sudah turun akibat berkurangnya permintaan dari kegiatan konstruksi, yang menyumbang lebih dari setengah konsumsi logam.
Padahal, selama kuartal I-III tahun 2021, industri baja terbilang memiliki kinerja terbaik dari seluruh ekonomi Tiongkok, dengan mengantongi laba bersih lebih dari 106 miliar yuan atau sekitar USD 16,61 miliar. Angka itu naik 129% dibandingkan sebelum pandemi 2019.
“Masih ada ketidakpastian di pasar real estat untuk 2022 dan situasinya diperkirakan tidak akan sepenuhnya berbalik selama 6-12 bulan lagi,” kata Pedagang Baja Qi Xiaoliang yang berbasis di Beijing, seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (19/12/2021).
Pada kuartal terakhir 2021, pasar properti Tiongkok juga terpukul oleh sentimen melemahnya daya beli konsumen. Permintaan untuk rumah pun diperkirakan semakin berkurang pada tahun 2022.
Selain industri baja, dampak penurunan properti juga terlihat di industri peralatan. Salah satunya terlihat dari menurunnya produksi lemari es sejak Mei hingga November secara year-on-year. []
Baca juga: Badai Utang Evergrande Gerus Kekayaan Bos Properti China












