Mengenal Ritual Mandi Safar dan Manfaatnya Bagi Pariwisata NTB

0
Mandi Safar
Ritual Mandi Safar, Gili Meno, Lombok, NTB. (Foto: Pelopor.id/Dispar NTB)

Pelopor.id – Ritual Mandi Safar, menjadi salah satu tradisi yang paling ditunggu-tunggu masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya warga Gili Meno. Kali ini, tradisi itu diselenggarakan pada Rabu, 6 Oktober 2021.

Lalu apa itu ritual Mandi Safar?, Mandi Safar adalah ritual yang dikenal dengan istilah ‘Rebo Bontong’ yang dilaksanakan secara rutin dari tahun ke tahun tiap bulan Safar (perhitungan kalender Islam). Ritual ini, dipercaya akan membangkitkan pariwisata Lombok-Sumbawa yang sebelumnya mati suri akibat pandemi covid-19.

“Saya yakin tradisi Rebo Bontong menjadi magnet bagi Gili Indah. Daya tarik Gili akan menjadi perhatian penonton dan wisatawan saat WSBK dan MotoGP dihelat.”

Tradisi di Gili Meno ini, disajikan dalam bentuk perpaduan budaya masyarakat Lombok Utara yang dibalut dalam nuansa Islami. Ritual Rebo Bontong juga dikemas sedemikian rupa agar menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Tahun ini, tradisi Rebo Bontong di Gili Meno tetap berlangsung walaupun terkesan sederhana lantaran masih dalam masa pandemi. Meski sederhana, tetapi tidak mengubah makna maupun arti dari ritual maupun nilai-nilai tradisi yang sudah melekat di kalangan warga Gili Meno.

Acara tetap berlangsung khidmat dan diikuti lantunan selakaran dan dzikir. Puncak acara, menjadi momen paling ditunggu-tunggu masyarakat yaitu mandi di laut. Warga yang hadir harus rela diceburkan atau menceburkan diri ke laut.

Yusron Hadi
Kadispar NTB Yusron Hadi. (Foto :pelopor.id/Dispar NTB)

Tradisi ini menjadi kian menarik karena Wakil Bupati Lombok Utara, Dani Karter Febrianto yang hadir diarak warga lalu diceburkan ke laut. Selain Dani, Kepala Dinas Pariwisata NTB, Yusron Hadi, ikut serta dalam ritual tradisi Rebo Bontong di Gili Meno. Tak ayal lagi, tradisi tahunan ini mengundang decak kagum dan senyum wisatawan nusantara yang hadir di destinasi unggulan NTB ini.

Kadispar menilai, tradisi Rebo Bontong merupakan aset budaya masyarakat Lombok. Budaya ini, jika dikemas menarik bisa menjadi atraksi unik yang layak jual selama masa pemulihan pariwisata NTB.

“Jelas ini aset berharga. Jika dikemas dalam balutan tradisi yang unik dan menarik maka tradisi ini memiliki nilai jual yang tinggi untuk pariwisata NTB. Atraksi ini layak jual dan bernilai ekonomi tinggi,” tutur Yusron Hadi berdasarkan keterangan tertulis yang dikutip Pelopor.id Kamis, 7 Oktober 2021.

Tradisi Rebo Bontong, menjadi kebangkitan pariwisata NTB, khususnya di kawasan tiga Gili. Makna ritual Rebo Bontong adalah pembersihan diri atau tolak bala (melukat dalam istilah suku Sasak, red).

Melukat di tengah kondisi pandemi ini, tidak saja bermakna membersihkan jiwa dan diri peserta ritual Rebo Bontong. Lebih dari itu, bagi Yusron Hadi juga bermakna membersihkan destinasi dari wabah covid-19.

Membersihkan diri selaras dengan semangat membangun kembali destinasi yang sehat dan aman. Setelah bersih dan aman, kawasan tiga Gili di Lombok Utara siap dikunjungi wisatawan.

“Inilah saatnya. Pelaksanaan tradisi Mandi Safar, menjadi awal kebangkitan pariwisata NTB. Membangun semangat pemulihan kebangkitan pariwisata NTB,” katanya penuh harap.

Pelaksanaan tradisi Rebo Bontong juga menjadi pertanda, bahwa warga Gili Indah bersiap menyambut event World Superbike (WSBK) 19-21 Nopember mendatang dan event MotoGP, Maret 2022 tahun depan di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah.

“Saya yakin tradisi Rebo Bontong menjadi magnet bagi Gili Indah. Daya tarik Gili akan menjadi perhatian penonton dan wisatawan saat WSBK dan MotoGP dihelat. Kawasan tiga Gili ini pasti dikunjungi wisatawan saat perhelatan event MotoGP dan WSBK. Pesan saya bersiaplah dan jaga Gili tetap aman dan sehat,” tadas Yusron Hadi. []