Kronologi Amukan Keluarga Pasien Covid-19 di RSUD Ambarawa Semarang

Tangkapan layar video keluarga pasien Covid-19 mengamuk di RSUD Ambarawa Semarang. (Foto: Pelopor/Instagram @lambe_turah)

Pelopor.id | Seorang pria keluarga pasien Covid-19 di RSUD dr. Gunawan Mangunkusumo Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, mengamuk dan membuat dua perawat mengalami luka di tangan akibat terkena sabetan gunting, pada Jumat sore (23/07/2021). 

Dalam keterangan tertulis, Manager Ruang Isolasi Anyelir RSUD Ambarawa Meisasi Widyastuti menjelaskan, peristiwa bermula ketika RSUD Ambarawa menerima pasien perempuan berinisial NH (37) warga Pringapus. Pasien mengalami pneumonia Covid-19 dan terkonfirmasi rapid antigen, dengan penurunan kesadaran dan hipertensi, pada Jumat dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Saat itu, pasien masih berada di Instalasi Gawat Darurat (IGD). 

Sebelum pasien masuk ruang isolasi, petugas mengedukasi keluarga pasien tentang tata tertib dan segala konsekuensi. Setelah edukasi, keluarga meminta waktu untuk bermusyawarah, dan akhirnya menyetujui tata tertib dirawat isolasi dengan mengajukan permintaan, yaitu keluarga ingin mengakses langsung CCTV ruang isolasi, menerima laporan rutin TTV (pemeriksaan vital) pasien, dan pasien diberi minum setiap 10 menit.

Bacaan Lainnya

Kemudian tim medis menjelaskan bahwa CCTV tidak bisa diakses oleh keluarga, namun jika ingin menanyakan keadaan pasien bisa langsung ke nurse station. Suami pasien pun menilai tata tertib itu tidak masuk akal dan menudingnya sebagai rekayasa. Sekitar pukul 01.55 WIB, keluarga menanyakan TTV pasien dan juga menanyakan kenapa saturasi bisa turun. Keluarga bahkan langsung menerobos masuk ke ruang isolasi. 

Baca Juga :   Dituduh Selingkuh Suami Bakar Kasur, 30 Rumah Tetangga Hangus

“Pukul 02.00 WIB, keluarga menerobos masuk, marah-marah ingin menunggui pasien dan memaksa agar dipindahkan ke IGD lagi. Setelah koordinasi dengan IGD dan supervisi, kemudian pasien dibawa ke IGD lagi,” kata Meisasi. 

Sekitar pukul 03.00 WIB, keluarga meminta agar pasien dipindahkan lagi ke ruang isolasi dan petugas pun kembali melakukan edukasi mengenai tata tertib di ruang isolasi. Setengah jam kemudian, pasien dalam kondisi kritis. Sekitar pukul 13.45 WIB, kondisi pasien semakin menurun dan tak lama kemudian pasien dinyatakan meninggal.  

Tim medis menginformasikan bahwa pasien tidak tertolong, dan memberi penjelasan tentang prosedur pemulasaraan jenazah secara protokol Covid-19. Suami pasien bisa menerima penjelasan itu, tetapi adik pasien menyatakan tidak setuju dan menginginkan jenazah dibawa pulang oleh pihak keluarga karena mereka mendapat informasi bahwa pasien yang meninggal akibat Covid-19 tidak mendapat perawatan semestinya, tidak selayak perawatan jenazah pada umumnya. 

“Sekitar pukul 15.00 WIB, keluarga pasien memaksa masuk untuk melihat dan memfoto jenazah pasien di dalam ruang isolasi tapi ditahan oleh satpam. Keluarga pasien tidak terima,” jelas Meisasi. 

Tiba-tiba keluarga pasien mengambil gunting di nurse station dan memukul-mukul meja kemudian mengacungkan gunting dalam posisi terbuka. “Perawat berusaha menahan gunting agar tidak di gunakan untuk melukai orang lain. Pelaku semakin berontak dan mengakibatkan luka pada tangan perawat tersebut. Akhirnya pelaku diamankan oleh banyak orang dan dibawa ke Polsek Ambarawa,” kata Meisasi. []

Pos terkait