Pelopor.id | Tren hari belanja online nasional (harbolnas) pada 11 November (11.11) tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di sejumlah negara lain, salah satunya China.
Harbolnas pertama kali dipopulerkan oleh perusahaan e-commerce Alibaba Group di China pada tahun 2009, yaitu mengajak pengguna internet belanja secara online dengan diskon besar-besaran selama sehari. Sejak itu, tanggal cantik pun menjadi festival penjualan online terbesar di dunia, mengalahkan Cyber Monday di Amerika Serikat.
Festival harbolnas ini pun disebut mampu mendatangkan omzet hingga 540,3 miliar yuan selama harbolnas berlangsung di Negeri Tirai Bambu.
Meski demikian, koran pemerintah China, Securities Daily, mengecam praktik harbolnas yang dianggap seperti “penyembahan terhadap omzet”.
Baca juga: Realme 11.11 Salebration Hadirkan Produk Terbaru
“Ibadah pemujaan terhadap omzet ini tidak hanya tak berkelanjutan dalam pertumbuhan digital tapi juga memicu kekacauan,” tulis Securities Daily seperti dikutip Reuters pada Jumat (12/11/2021).
Bahkan, festival harbolnas dinilai turut memicu praktik dagang tidak sehat, seperti pengiriman pesan spam terhadap para pengguna hingga mendorong pedagang memalsukan diskon, supaya produknya laku terjual di berbagai e-commerce.
Melihat hal itu, Securities Daily berharap, festival harbolnas selanjutnya dapat digunakan berbagai platform e-commerce dan bisnis untuk menampilkan pencapaian inovatif.
China melalui surat kabar itu menilai, fokus dan tujuan festival belanja online ini harusnya lebih ke arah persaingan dalam bidang sains dan teknologi. []












