Pelopor.id | Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengarahkan kepada para menterinya supaya harga tes PCR dapat diturunkan menjadi Rp 300 ribu dan berlaku selama 3×24 jam untuk perjalanan pesawat.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Artha Hanif mengapresiasi hal tersebut. “Ya itu bagus, pemerintah mesti selalu hadir disetiap persoalan rakyat ini. Bahkan kalau bisa lebih rendah lagi (harga tes PCR),” katanya dalam wawancara lewat telepon bersama Pelopor.id, Selasa (26/10/2021).
Sejatinya, ia mengaku bingung mengapa tes PCR harus menjadi salah satu syarat bagi calon penumpang pesawat. Menurut Artha, selama calon penumpang sudah menerima vaksin Covid-19 sebanyak dua dosis, semestinya sudah dianggap aman.
Baca juga: Luhut Pandjaitan: Presiden Minta Harga PCR Turun Jadi Rp 300 Ribu
“Apa sih bedanya, misalnya seorang yang lengkap (menerima vaksin Covid-19) dan kemudian datang ke suatu kementerian untuk rapat, apalagi rapatnya juga cukup padat, dan mereka hanya melalui satu proses tahapan dibaca barcodenya (dalam aplikasi PeduliLindungi), dianggap sudah cukup, termasuk kita datang ke beberapa tempat lain, termasuk mal, prosesnya begitu. Tapi kenapa untuk pesawat harus pakai PCR?” ujar Artha.
Artha juga mempertanyakan sebenarnya berapa biaya yang dibutuhkan dalam melakukan tes PCR. Mengingat, harga tes PCR di Indonesia sempat terbilang sangat tinggi, yaitu berkisar Rp 900 ribu – Rp 1,2 juta sejak awal pandemi Maret 2020 dan terus turun hingga sekarang berkisar Rp 500 ribu.
“Kalau melihat begitu dinamisnya harga PCR itu, saya malah berpikir ini ada apa? Jadi, sebenarnya sejak dulu sampai sekarang biaya yang real PCR itu berapa sih? Itu satu persoalan,” tanya Artha.
Baca juga: Trubus Rahadiansyah Menduga Ada Pihak yang Diuntungkan dari Kebijakan Naik Pesawat Wajib PCR
Artha juga yakin ada pihak-pihak tertentu yang mendapatkan manfaat dari kebijakan ini, bukan maksudnya diuntungkan, tapi pasti mendapatkan manfaat. “Dalam keadaan tsunami saja ada yang masih jualan, atau apalagi jadi ada bansos, sehingga sembako jadi laku, jadi pastilah segala sesuatunya pasti ada manfaatnya,” pungkasnya.
Meski demikian, Artha mengajak masyarakat untuk tetap berpikir positif bahwa semua ini dilakukan demi mengutamakan kesehatan masyarakat. []
Baca juga: Test PCR Mahal, Pengamat Gaungkan “No Vaksin No Holiday”












