Jakarta – Duo musik MIRZATAMI, yang digawangi oleh Yudhistira Mirza dan Charita Utami, resmi merilis album penuh perdana mereka bertajuk “Jejak”. Album ini menjadi tonggak penting perjalanan musikal mereka setelah sebelumnya memperkenalkan mini album “Detak” (2018) dan sejumlah single yang lebih dulu hadir di publik.
Nama panggung MIRZATAMI dipilih agar mudah diingat dan diucapkan oleh khalayak pendengar. Berawal dari pertemuan pada 2015, keduanya menemukan kesamaan visi dalam mengeksplorasi corak musik etnik, folk, dan elektronik. Dari sinilah lahir karya-karya yang kemudian membentuk identitas musikal mereka.
Album “Jejak” berisi sepuluh lagu yang merekam perjalanan kreatif MIRZATAMI selama lebih dari satu dekade.
Lagu-lagu tersebut antara lain “Jejak (Intro)”, “Rampas”, “Usai Usia”, “Serang Serang”, “Saling Menghidupkan”, “Selat (Interlude)”, “Tembang Kembang”, “Sembuh Tumbuh”, “Pasrah”, dan “Sadar Sandar”.
Empat di antaranya sudah lebih dulu dirilis sebagai single dan mendapat sambutan positif dari pendengar.
Dalam proses kreatif maupun skala pertunjukan besar, MIRZATAMI juga mendapat dukungan dari sejumlah musisi seperti Geraldo Oryza (bass), Housman Pranoto (drum), dan Pandji Putranda (piano). Kolaborasi ini memperkaya warna musik yang mereka sajikan, menjadikan Jejak sebagai karya yang matang secara musikal.
Charita Utami memiliki rekam jejak panjang di industri musik. Ia memulai karier bersama The Trees and The Wild sejak 2008, merilis album “Rasuk” (2009) dan “Zaman, Zaman” (2016). Tami juga sempat bergabung dengan grup EDM Midnight Quickie, berkolaborasi dengan Fourtwnty, serta merilis solo EP “Omahati” (2023).
Sementara itu, Yudhistira Mirza membentuk grup Parisude pada 2009, menghasilkan dua mini album dan satu full album. Ia juga sempat bergabung dengan Talun Awan serta berperan sebagai produser untuk Barasuara dan Jelita Clough.
Dengan latar belakang yang kaya dari pengalaman masing-masing anggota, album “Jejak” hadir sebagai karya yang tidak hanya menandai eksistensi MIRZATAMI di industri musik, tetapi juga sebagai pernyataan artistik bahwa perpaduan etnik, folk, dan elektronik mampu menghadirkan musik yang relevan dan menyentuh hati pendengar masa kini.












