Jakarta – Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki menegaskan, pola pikir bahwa pelaku UMKM hanya sebagai bumper dalam perekonomian nasional sangat keliru. Pasalnya, UMKM telah terbukti berperan sebagai dinamisator pemulihan ekonomi.
MenKopUKM juga menekankan, bahwa UMKM berhasil melakukan transformasi yang luar biasa, utamanya terkait keikutsertaan mereka dalam ekosistem digital. Tercatat sejak awal pandemi, jumlah UMKM yang memanfaatkan e-commerce meningkat lebih dari 100%.
“Begitu ada pandemi, jumlah UMKM yang go online, masuk ke ekosistem digital naik pesat dari 8 juta pelaku usaha menjadi tak kurang dari 19 juta UMKM,” tutur MenKopUKM dalam kegiatan Komunikasi Sosial TNI Tingkat Pusat TA 2022 di Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jakarta, dikutip Kamis, (02/06/2022)
Teten juga menjelaskan, bahwa pandemi juga berdampak pada semakin beragamnya produk yang diciptakan oleh UMKM, seperti di sektor kuliner yang marak bermunculan frozen food. Selain itu, mulai bermunculan juga produk-produk health care, dan sebagainya.
Perubahan pola pikir terhadap UMKM pun menurut MenKopUKM dianggap penting, mengingat hingga kini usaha kecil masih mendominasi postur perekonomian dengan persentase 99,9%. Dari angka itu, segmen usaha mikro menjadi penguasa dengan jumlah 99% dan mampu menyerap tak kurang dari 97% lapangan pekerjaan.
Padahal di sisi lain, UMKM di Indonesia masih cenderung rendah dalam hal mengakses kredit perbankan. MenkopUKM mencatat, porsi kredit perbankan untuk UMKM masih di angka 19,8%.
“Bisa dibayangkan kalau UMKM kita itu seperti di Korea Selatan, dimana kredit perbankan sudah banyak untuk UMKM. Kita saja yang 19,8% bisa menyerap lapangan kerja 97% dan berkontribusi terhadap PDB 61%,” tandas Teten.
Menurutnya, catatan-catatan tersebut bahwa selama ini penempatan UMKM yang hanya sebagai bumper perekonomian sangatlah keliru karena pada nyatanya, sektor UMKM menjadi penyelamat dan pahlawan dari setiap krisis yang melanda perekonomian bangsa.
“Untuk itu saat ini pemerintah tengah mengubah cara pandang, pola pikir, dan visi terhadap potensi ekonomi UMKM. Artinya, UMKM tak hanya kita anggap sebagai bumper, ekonomi subsisten, atau ekonomi untuk kebutuhan rumah tangga saja,” pungkas Teten. []












