Jakarta | Hamparan sawah luas Jatiluwih di Bali sudah dinyatakan sebagai salah satu World Heritage oleh UNESCO, sebagai kekayaan alam khususnya di bidang pengaturan dan perawatan sistem pengairan tradisional yang disebut subak.
Area yang diakui sebagai World Heritage ini meliputi 14 subak yang menaungi 11 desa, luas hamparan sawah (padi fields) 2.372 ha, taman seluas 3.545 ha, hutan seluas 9.316 ha, rumah sebanyak 317 unit, dan semak-semak liar seluas 475 ha. Jadi perlu berapa hari untuk kita wisata keseluruhan sawah dan desa di sini?
Ubud! Sudah pasti terkenal dengan terasering sawah hijau memukaunya. Pasti sudah pernah dong! Jalani setapak demi setapak tepian sawah dengan tanjakan maupun turunannya, jangan takut lelah karena pasti terbayarkan dengan pengalaman seru dan memuaskan.
Nikmati kudapan, kopi maupun makan utama di sekitar sawah-sawah ini sambil menatap ulang panorama perjalanan dengan ditemani alunan musik tradisional Bali. Selain Ubud, Bali masih memiliki berbagai pemandangan dan pengalaman sawah.
Desa Panglipuran sudah pasti yang paling terkenal. Desa ini juga sudah mendapat berbagai penghargaan dan pengakuan dikompetisi kelas dunia. Desa ini bersih dan menerapkan local wise. Jika berkunjung ke sini, wisatawan bisa mempelajari aturan adat, tradisi unik, dan banyak acara ritual, termasuk Galungan.

Jika ingin mempelajari lebih dalam mengenai budaya Bali lama, aturan adat dan kebiasaan hidup desanya, bisa menginap di sejumlah homestay yang ada di lingkungan desa tersebut. Harus dikunjungi dan ambil foto di berbagai spot ya, viralkan, biar semakin mendunia!
Desa Tigawasa, memiliki keistimewaan bagi pengunjung untuk menikmati kopi robusta yang dipetik langsung dari perkebunan kopi setempat sambil melihat pemandangan perbukitan. Puas menikmati pemandangan, langsung saja menjelajahi salah satu desa tua di Buleleng tersebut dan berinteraksi dengan masyarakat setempat sambil mempelajari budaya, tradisi, dan adat istiadat yang ada.
Wilayah Karang Asem terkenal masih mempertahankan budaya asli Bali. Salah satunya Desa Tenganan yang masih mempertahankan rumah dan adat yang sudah ada sejak dulu kala. Hal ini karena masyarakat desa memiliki aturan adat yang sangat kuat yang disebut dengan awig-awig. Aturan adat itu sudah ada sejak abad ke-11.
Lingkungan Desa Tenganan masih sangat terjaga. Banyak sawah dan tanaman masih terlihat asri. Kerbau milik warga pun bebas berkeliaran di pekarangan rumah sehingga pengalaman mengunjungi desa dengan kehidupan masyarakat asli Bali sebelum abad ke-20 dapat kita rasakan juga.[]












