Jakarta | Tiongkok pada Jumat (20/05/2022) mengumumkan akan memangkas suku bunga utama. Langkah itu diharapkan mampu membantu para pembeli rumah dan pengembang yang terlilit utang akibat melambatnya ekonomi Tiongkok oleh kebijakan ketat nol Covid-19.
Sunac, salah satu pengembang di Tiongkok yang gagal membayar dalam beberapa bulan terakhir, mengatakan bahwa penjualan di kota-kota besar telah turun secara dramatis pada Maret dan April akibat gelombang Covid.
Aturan penguncian atau lockdown yang berkepanjangan di Tiongkok memang telah menghambat rantai pasokan, menurunkan daya beli, dan menghentikan kegiatan manufaktur.
Bank sentral Tiongkok menyebutkan, suku bunga pinjaman lima tahun (LPR), yang banyak pemberi pinjaman mendasarkan suku bunga hipotek mereka, dipangkas dari 4,6% menjadi 4,45%.
Suku bunga pinjaman satu tahun, yang memandu berapa banyak bunga yang dibebankan bank komersial kepada peminjam korporat, tetap tidak berubah di level 3,7%.
Para analis mengatakan, potongan untuk LPR lebih besar dari yang diharapkan pasar, karena perencana Tiongkok mencoba menyuntikkan kehidupan ke dalam ekonomi yang melambat.
“Indikator ekonomi bulanan yang diterbitkan baru-baru ini menunjukkan tekanan pertumbuhan yang parah,” menurut ahli strategi pasar global di JP Morgan Asset Management Chaoping Zhu yang dikutip dari AFP.
Tiongkok telah menargetkan pertumbuhan ekonomi setahun penuh sekitar 5,5%, namun data yang diterbitkan pada April menunjukkan bahwa pertumbuhan kuartal pertama melambat menjadi 4,8%, setelah ekonominya kehilangan tenaga pada paruh kedua tahun lalu.[]












