Ketua Umum NU Apresiasi Polisi Jadikan Bahar Smith Tersangka Hoaks

0
Ketua Umum NU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf. (Foto:Pelopor.id/SS Youtube American Jewish Committee)

Pelopor.id – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf, mengapresiasi tindakan pihak kepolisian yang telah menjadikan Bahar bin Smith sebagai tersangka penyebaran kabar bohong atau hoaks.

Yahya menegaskan, siapa pun yang menyebarkan propaganda radikal dan kabar bohong harus segera ditindak. Bahar bin Smith sendiri langsung ditahan usai menjalani pemeriksaan dan ditetapkan sebagai tersangkaa oleh Polda Jawa Barat.

“Ulama telah memberikan informasi bahwa mematuhi hukum negara yang berlaku adalah mematuhi syariat.”

“Saya sangat mengapresiasi tindakan Polri yang telah mengambil tindakan tegas terhadap tindakan perilaku intoleran, dan propaganda radikal, bahkan penyebaran informasi-informasi palsu oleh sementara pihak termasuk khususnya oleh Habib Bahar bin Smith,” tuturnya, Selasa (4/1/2022).

Tindakan tegas kepolisian seperti saat ini, diperlukan untuk mencegah persepsi yang keliru tentang syariat Islam dan merebaknya kecenderungan untuk mempercayai propaganda radikal dan intoleran. Yahya berharap, hal ini bisa dipertahankan ke depan untuk mengatasi persoalan propaganda intoleransi.

“Mudah-mudahan ini akan menjadi sikap yang terus dipertahankan Polri sehingga kita bisa sungguh-sungguh mencegah dan mengatasi masalah propaganda dan intoleransi yang dikembangkan oleh sejumlah pihak,” harapnya.

Lebih lanjut, Yahya mengatakan propaganda radikalisme hingga intoleransi atas nama agama kerap bersembunyi di balik ruang abu-abu, antara hukum negara dengan apa yang dipersepsikan sebagai syariat.

“Namun ulama telah memberikan informasi bahwa mematuhi hukum negara yang berlaku adalah mematuhi syariat,” katanya.

Sementara kuasa hukum Bahar bin Smith, Ichwan Tuankotta mengaku heran lantaran proses hukum yang menimpa kliennya sangat cepat dibanding penanganan kasus lain yang diduga melakukan penistaan agama.

Menurut Ichwan, proses hukum yang serba cepat ini mengindikasikan asas kesamaan di depan hukum atau equality before the law telah mati. Sebab, proses hukum terhadap orang-orang yang juga diduga menista agama jalan di tempat. []