Taufan Rahmadi, From Zero to Global Tourism Forum

0
Taufan Rahmadi
Pengamat Sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi. (Foto:Pelopor.id/Global Tourism Forum)

Pelopor.id | Jakarta – Pengamat Sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi belum lama ini terpilih sebagai guest speaker di Global tourism forum. Menjadi salah satu ke speaker di forum kelas dunia ini tidaklah mudah, calon speaker tersebut akan dilihat terlebih dahulu background, portofolio dan lain sebagainya.

Sebab, di forum tersebut pembicara menyampaikan pandangan dan gagasannya kepada para leader yang telah diakui eksistensinya, khususnya di bidang pariwisata. Pemimpin-pemimpin dunia itu, adalah sosok yang telah menorehkan banyak legacy saat mereka berkiprah di dalam menjalankan tugas-tugasnya.

“Gagasan itu harus lahir dari Lombok, sebuah pulau yang didalamnya terdapat satu dari 5 destinasi pariwisata prioritas di Indonesia yakni Mandalika.”

“Bagi saya kesempatan ini bukanlah hal yang biasa-biasa saja. Ini merupakan suatu kehormatan besar untuk terpilih menjadi guest speaker. Bagi saya Ini adalah sebuah pembuktian bahwa ketika kita fokus dan konsisten, Istiqomah terkait apa yang menjadi perjuangan, Allah akan mendengarkan kita dan membimbing kita ke tempat yang terbaik,” tutur Taufan kepada Pelopor.id, Minggu,19 September 2021.

Background TR sendiri (panggilan akrab Taufan Rahmadi), Ia pernah menjabat Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2015. Lalu membawa Lombok dan Indonesia berjaya di ajang World Halal Travel Awards 2015 di Abu Dhabi, dengan memenangkan Lombok sebagai Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia, dan Destinasi Wisata Bulan Madu Halal Terbaik Dunia.

Kemudian 2016 sampai 2018, ditunjuk oleh Kementerian Pariwisata RI menjadi anggota Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas RI, sekaligus PIC Mandalika.

Pada 2020, Ia menerbitkan buku Protokol Destinasi. Lalu sejak 2020 sampai kini, dipercaya sebagai Juru Bicara Bidang Pariwisata Sandiaga Salahudin Uno (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI saat ini).

Sedangkan tahun 2021 ini, Taufan ditunjuk sebagai team leader Best Tourism Village UNWTO 2021. Selainn itu, Taufan didaulat oleh Bapak Oke Oce sebagai re-present pilar kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, pendidikan, komunitas, masyarakat dan media.

Pemaparan Pandangan dan Gagasan di Global tourism forum

Dalam Global tourism forum tersebut, Taufan Rahmadi putra asli Lombok menyampaikan bahwa sektor pariwisata menjadi yang paling terpukul dengan adanya pandemi corona ini. Padahal, pada awal-awal kemunculan virus corona, Lombok baru saja bangkit dari keterpurukan setelah dihantam gempa dahsyat pada agustus 2018.

“Baru saja berangsur membaik kunjungan wisatawan ke tempat kami, kami harus Kembali memutar otak untuk berfikir bagaimana agar tetap hidup dan bertahan ditengah badai virus corona yang kembali memporak-porandakan berbagai lini, khususnya pariwisata,” tutur Taufan dalam acara tersebut secara virtual.

Kehadiran Pandemi, membuat Taufan berfikir mengenai strategi agar sektor pariwisata tetap bertahan. Kemudian ia pun membuat terobosan-terobosan untuk diwujudkan secara bersama-sama dengan kolaborasi pentahelix pariwisata.

“Saya berfikir bahwa gagasan itu harus lahir dari Lombok, sebuah pulau yang didalamnya terdapat satu dari 5 destinasi pariwisata prioritas di Indonesia yakni Mandalika, harus mencetuskan ide dan gagasan yang selanjutnya nanti bisa ditiru dan menjadi rekomendasi-rekomendasi kongkrit di destinasi-destinasi yang ada,” ungkap Taufan dalam forum yang sama.

Pemikiran untuk mencetuskan ide dan gagasan agar bisa tetap bertahan tersebut, akhirnya memicu Taufan untuk menulis sebuah buku yang berjudul Protokol Destinasi yang ternyata responnya bagus hingga menjadi Best Seller.

“Saya mendedikasikan buku ini sebagai alat pengetahuan yang berisi tentang strategi kreatif mengelola destinasi di kala Pandemi,” sebutnya.

Sejak awal Taufan pernah mengatakan, bahwa mau tidak mau kita harus bisa hidup berdampingan dengan covid-19. Pernyataannya ini, mengacu pada pernyataan WHO bahwa belum diketahui dengan pasti kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Bahkan sekarang ini, sudah semakin banyak varian mutasinya.

Dalam acara Global tourism forum, Taufan menggunakan dua barang tradisional milik Suku Sasak di Lombok. Yang pertama adalah Sapuq sebagai ikat kepala dan Kaing Kembang Komak.

“Orang Sasak akan selalu mengikatkan sapuknya di bagian depan. Hal ini karena orang Sasak tidak suka menutupi sesuatu. Mereka akan mengungkapkannya secara langsung, tetapi tetap terkendali dan dalam arah yang benar,” tegasnya.

Sedangkan ‘Kaing Kembang Komak’ adalah salah satu kain tradisional Sasak yang terbuat dari hanya dua benang, hitam dan putih. Artinya, dalam kegelapan selalu ada cahaya dan harapan untuk maju.

Taufan Rahmadi
Pengamat Sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi. (Foto:Pelopor.id/Global Tourism Forum)

Strategi Bertahan dan Rebound dari Pandemi

Berbekal pengalaman yang dimilikinya, kemudian buku yang telah ia terbitkan, Taufan Rahmadi terus melakukan pendampingan kepada pemerintah-pemerintah daerah terkait strategi-strategi kreatif agar sektor pariwisata segera rebound. Berikut Strategi Kreatifnya:

1. Solidarity on Survival (SOS)

Dalam hal ini, semua pelaku pariwisata harus memiliki satu semangat bahwa kita semua bersaudara. Kita bersatu padu menghadapi pandemi ini bersama-sama, Yang kaya membantu yang miskin, yang kuat membantu yang lemah, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk memberikan insentif kepada masyarakat, mengurangi angsuran kredit, menghapus atau mengurangi bunga kredit dan lain-lain.

Pada fase SOS ini, pemerintah harus benar-benar hadir dengan memastikan insentif kepada masyarakat khususnya pelaku pariwisata agar secepatnya bisa dicairkan, memastikan bantuan berupa hand sanitizer, masker, sabun cuci tangan dan lain-lainnya selalu ada dan tersedia di destinasi.

Selanjutnya, kecenderungan masyarakat untuk berwisatapun berubah, yakni dengan mengunjungi tempat-tempat terdekat sehingga hal tersebut bisa menjadi trigger untuk desa-desa wisata berbenah dan bangkit dengan menyiapkan tempat wisata yang aman dan nyaman untuk dikunjungi berdasarkan keunikan masing-masing dan tetap dengan protocol Kesehatan yang selalu dijaga.

2. Healing on Tourism (HOT)

Healing on Tourism (HOT) adalah fase ketika dilakukannya pemulihan kembali kunjungan wisatawan, mendesign ulang marketing agar bukan hanya wisatawan domestik saja yang datang tetapi juga wistawan mancanegara.

Pada tahapan ini, pemerintah Kembali harus menjadi yang terdepan dengan mendorong terhadap akomodasi-akomodasi termasuk café dan restaurant, destinasi-destinasi agar memiliki standar CHSE untuk memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan.

Karena sebaran covid-19 tak menentu, kadang ada yang naik, kadang ada yang turun bahkan tidak ada, maka pemerintah harus membuat zona hijau pariwisata, bubble destination yang memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan dalam berkunjung. Termasuk apabila ada wisatawan yang terpapar covid-19 di destinasi, protocol evakuasinya juga disiapkan.

Selanjutnya, mempercepat vaksinasi di destinasi wisata termasuk terus memberikan pemahaman kepada masyarakat agar sesegera mungkin mengikuti vaksinasi.

Gelaran World Superbike pada 12-14 November 2021 mendatang, dan Tes Pramusim MotoGP pada 11-13 Februari 2022 dan Balapan utamanya yang direncanakan pada Maret 2022 mendatang adalah momentum kebangkitan pariwisata Indonesia.

Taufan Rahmadi
Pengamat Sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi. (Foto:Pelopor.id/Global Tourism Forum)

Untuk itu, demi memastikan 3 event besar tersebut terselenggara, vaksinasi harus terus di gencarkan. Pemerintah baik tingkat nasional dan daerah didukung semua stakeholder pariwisata harus Sprint, inilah saatnya untuk Gercep, Geber, dan Gaspol Bersama-sama.

Seperti strategi SOS dan HOT, kolaborasi harus dilanjutkan dengan strategi kreatif agar tercipta mementum untuk bangkit seperti pemerintah provinsi NTB yang dalam waktu dekat akan mengeluarkan peraturan gubernur tentang zona hijau pariwisata.

Pemerintah Lombok Timur dengan Desa Wisata Tete Batu terpilih sebagai wakil Indonesia di ajang World Tourism Village award UNWTO, Pemerintah Lombok Tengah Dengan Desa Wisata Bilebante yang menjadi juara dua nasional pada ajang BCA Desa Wisata Award 2021, kemudian Pemerintah Lombok Barat dengan Kembali ke Senggigi.

SOS dan HOT dapat dengan mudah diterapkan di destinasi Pariwisata dengan Formula 3S + Halal, kemudian Responsibility as a guest, and responsibility as the host. Selanjutnya, Size the Momentum dimana Tete Batu on UNWTO Tourism Village award 2021, World Superbike pada bulan November and MotoGP pada Februari-Maret 2022

Namun, untuk mencapai hal ini, semua komponen dan stakeholder pariwisata harus berkolaborasi (Tourism united). []