“Jalan lain untuk menjaga ekosistem tersebut ya dengan pembatasan kunjungan saja. Atau sekalian ditutup dengan jangka waktu tertentu mungkin. Jangan dibarengi dengan kenaikan harga yang cukup signifikan dan mendadak seperti ini.”
Pelopor.id | Jakarta – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nusa Tenggara Timur (NTT) menilai, harga Rp3.750.000 untuk tiket masuk terusan Taman Nasional (TN) Komodo selama setahun mulai 1 Agustus 2022, cukup Mahal. Ketua ASITA NTT Abed Frans juga khawatir, kenaikan tersebut, bakal menyebabkan anjloknya permintaan perjalanan wisata ke Labuan Bajo.
“Imbas dari harga baru itu pasti ada. Dan yang kita khawatirkan itu adalah imbas penurunan permintaan perjalanan wisata ke Labuan bajo, khususnya ke pulau komodo,” tuturnya kepada Pelopor.id Jumat, (15/07/2022).
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menjelaskan, kenaikan tarif masuk itu untuk biaya konservasi nilai jasa ekosistem lingkungan di kawasan tersebut.
Namun menurut Abed, seharusnya untuk menjaga ekosistem, bisa dilakukan dengan pembatasan kunjungan atau penutupan dalam jangka waktu tertentu. Tetapi, jangan harganya dinaikkan secara signifikan dan mendadak seperti ini.
“Memang agak susah ya bila kita hadapkan antara recovery pariwisata dengan konservasi. Mungkin jalan lain untuk menjaga ekosistem tersebut ya dengan pembatasan kunjungan saja. Atau sekalian ditutup dengan jangka waktu tertentu mungkin,” tegas Abed.

“Jangan dibarengi dengan kenaikan harga yang cukup signifikan dan mendadak seperti ini. Karena khususnya wisatawan domestik karakternya adalah harga paket perjalanan itu. Dan masih ada beberapa alasan keberatan lain yang bisa disampaikan juga,” sambungnya.
Sebab, dengan lonjakan harga tersebut bukan hanya kelas menengah dan kelas bawah saja yang terpengaruh, tetapi juga seluruh segmen. Namun kini, pemerintah sudah mulai melakukan dialog dengan stakeholder terkait kebijakan tersebut.
“Untuk saat ini saya melihat mulai ada beberapa pertemuan antara industri dan pemerintah. Saya harapkan ada masukan-masukan dari industri yang diterima oleh pemerintah,” tandas Abed. []












