Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang) Rachmat Gobel, meminta pemerintah agar memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak seperti halnya dalam menghadapi pandemi Covid-19.
“Ini sama-sama serangan virus. Persebarannya juga sudah sangat meluas. Dan ini menyangkut nasib peternak dan juga soal kedaulatan pangan di tengah ancaman krisis pangan dunia,” tuturnya berdasarkan keterangan resmi yang dikutip Jumat, (10/06/2022).
Untuk penanganan wabah PMK, Gobel mengusulkan 6 hal ini kepada pemerintah:
1. Menyediakan anggaran untuk pemberian ganti rugi kepada peternak yang ternaknya terinfeksi PMK.
2. Segera melakukan vaksinasi massal terhadap ternak.
3. Bulog dan Badan Pangan Nasional segera menciptakan mekanisme penampungan daging dari ternak yang terinfeksi PMK.
4. Lakukan pemusnahan terhadap ternak yang terinfeksi PMK.
5. Hentikan impor dari negara yang belum terbebas PMK.
6. Segera tetapkan wabah PMK sebagai kejadian luar biasa jika dianggap perlu.
Menurut Gobel, bagi peternak sapi dan kerbau rumahan, hewan ternak merupakan harta terbesar yang dimiliki. Kematian satu ternak bagi mereka, sudah merupakan kiamat tersendiri dan mengancam masa depan keluarga.
“Biasanya akan dijual saat ada hajatan atau untuk keperluan sekolah anaknya. Karena itu wabah PMK ini merupakan ancaman terbesar bagi masa depan keluarga,” ungkap Legislator dapil Gorontalo itu saat menerima Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) drh Nanang Purus Subendro dan Bendahara Umum PPSKI Yudi Arif, di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Kamis (09/06/2022).

Gobel menegaskan, bahwa kepemilikan hewan ternak sapi atau kerbau merupakan indikator tersendiri dalam mengukur kemiskinan masyarakat. Sehingga jika hewan ternaknya mati atau harganya jatuh, maka keluarga peternak tersebut langsung jatuh miskin.
“Jadi jangan meremehkan masalah (PMK) ini,” tandas politisi Partai Nasdem tersebut.
Lebih lanjut Gobel menyampaikan, serangan wabah PMK sangat memukul upaya pemerintah untuk mengejar kedaulatan penyediaan pangan daging. Dari 12 bahan pokok pangan strategis, penyediaan daging sapi masih berwarna merah.
“Serangan PMK ini tentu akan semakin menyulitkan upaya kedaulatan pangan daging sapi. Kejadian ini merupakan bentuk kesembronoan dalam tata laksana impor dari negara yang masih belum bebas PMK. Harus ada evaluasi serius mengapa ini bisa terjadi,” tandasnya.
Nanang Purus Subendro sebelumnya menyebutkan, sudah 20 provinsi yang terpapar PMK dalam kurun waktu sebulan ini . Akibat serangan PMK tersebut, terjadi panic selling, yaitu harga sapi turun drastis yang sangat merugikan peternak. Nanang juga merinci, jumlah peternak di Indonesia mencapai sekitar 5 juta orang dengan populasi sapi 18 juta ekor dan populasi kerbau 1,1 juta ekor.
Wabah PMK ini menurutnya, tak hanya bisa menyerang sapi dan kerbau tetapi juga bisa menyerang domba, kambing, dan babi. Nanang juga memberitahu, bahwa Indonesia telah bebas PMK sejak 1990. Sedangkan kasus pertama terjadi pada 1886. Dengan demikian butuh lebih dari satu abad untuk bebas PMK.
“Jika satu sapi saja terpapar, maka satu kandang dipastikan terpapar semuanya,” tandas Nanang. []
Sumber: DPR












