Pelopor.id – Di saat varian Covid-19 Omicron tengah merajalela di Indonesia, terdengar kabar lahirnya Subvarian Omicron BA.2 yang dijuluki ‘Son of Omicron’. Bahkan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah memastikan, bahwa varian yang sulit dideteksi dengan SGTF (S-gene Target Failure) itu sudah ada di Indonesia.
“Sudah ada. Kita sudah deteksi mungkin sekitar 10,” tutur Menkes, Kamis (27/1/2022).
Menkes menjelaskan, subvarian BA.2 ini berbeda dengan BA.1 sehingga tidak terdeteksi dengan SGTF. Namun ia memastikan Indonesia akan segera punya reagen yang bisa mendeteksi kedua subvarian tersebut.
Di sisi lain, Badan Kesehatan Masyarakat Kanada (PHAC) melaporkan telah mendeteksi lebih dari 50 kasus subvarian Omicron baru yang dikenal sebagai varian BA.2. Sebanyak 51 kasus subvarian BA.2 terkonfirmasi di Kanada, dengan kasus terutama dari pelancong internasional.
Turunan dari varian Omicron telah ditemukan di setidaknya 40 negara berdasarkan data GISAID pada 25 Januari 2022 setelah terdeteksi pertama kali pada November 2021.
- Dua Pasien Omicron Meninggal, Puan Maharani Minta Program Vaksinasi Dikebut
- Menkes: Ada 1.600 Kasus Omicron di Indonesia
Pemerintah Inggris, telah menetapkan varian ini sebagai varian yang sedang diselidiki, dengan kemungkinan mempunyai keunggulan pertumbuhan. Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum memberikan julukan kepada varian BA.2 ini sebagai varian yang menjadi perhatian, namun tetap melacak penyebaran sub-garis keturunannya.
Varian baru Omicron, B.1.1.529 sendiri, mempunyai empat sub-garis keturunan yaitu BA.1, BA.1.1, BA.2, dan BA.3. Yang dianggap lebih tersembunyi dibandingkan versi asli Omicron adalah Sub-garis keturunan varian BA.2. Beberapa sifat genetik yang dimiliki membuatnya lebih sulit untuk dideteksi.[]












