Jakarta – KLBB Festival 2026 di Stadion Madya GBK menjadi saksi bagaimana Idgitaf mengubah panggung konser menjadi ruang inklusif yang penuh makna. Penampilannya kali ini bukan sekadar hiburan, melainkan pernyataan kuat bahwa musik adalah hak dasar manusia.
Dengan menggandeng komunitas Teman Tuli, Idgitaf menghadirkan kolaborasi emosional yang membuka mata banyak orang tentang pentingnya akses dalam dunia musik.
Komunitas Teman Tuli tampil bersama Idgitaf, menerjemahkan lagu-lagu ke dalam bahasa isyarat dan gerakan tari yang ekspresif. Penonton tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat dan merasakan emosi yang disampaikan.
Lagu Rutinitas dan Sedia Aku Sebelum Hujan menjadi momen paling berkesan, ketika lirik reflektif Idgitaf berpadu dengan interpretasi visual yang kuat. Malam itu, musik benar-benar hadir dalam bentuk yang lebih luas: suara, gerakan, dan rasa.
Bebicara dalam keterangan tertulisnya, Idgitaf menyampaikan pesan tegas tentang inklusivitas.
“Di hari itu ada hati yang berbicara, jiwa yang mendengar, dan telinga yang bergema. Buatku, musik selalu lebih luas dari sekadar suara,” katanya.
Ia menambahkan bahwa konser seharusnya nyaman untuk semua orang, bukan hanya segelintir orang. Pernyataan ini menjadi refleksi penting bagi industri musik Indonesia yang masih perlu banyak berbenah dalam hal aksesibilitas.
Kolaborasi ini bukan hanya tentang satu malam, melainkan bagian dari usaha kecil yang konsisten untuk menciptakan ruang aman dan setara di industri kreatif.
Idgitaf menunjukkan bahwa musik bisa menjadi medium untuk menyatukan perbedaan, memperkuat solidaritas, dan membuka ruang dialog tentang inklusivitas.
Penampilannya di KLBB Festival 2026 menjadi bukti bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu menjangkau semua orang, tanpa batasan. []












