Jakarta – Malam Bogor yang dingin pada 16 Januari 2026 berubah menjadi hangat ketika Man Sinner naik ke panggung Buitenstage volume ke-2. Kuartet asal Cakung ini tidak memberi jeda panjang setelah Swazta membuka acara.
Begitu gitar distorsi dan drum menghentak, audiens langsung terseret dalam arus energi skate punk yang menjadi identitas mereka.
Man Sinner bukan sekadar band punk yang bermain cepat dan keras. Mereka membawa pesan. Dari isu lingkungan hingga perlawanan terhadap diskriminasi, setiap lirik yang mereka nyanyikan adalah potongan realitas yang ingin mereka suarakan. Malam itu, pesan tersebut terasa nyata, seakan menembus dingin Bogor dan menghangatkan hati penonton.
Lagu kolaborasi mereka dengan vokalis Rebellion Rose bertajuk Akhiri Perpecahan menjadi salah satu momen paling berkesan. Momen ini memperlihatkan bahwa skena independen adalah ruang kebersamaan, bukan sekadar kompetisi. Penonton pun merespons dengan sorakan dan tepuk tangan yang tak henti.
Di balik musik keras yang mereka usung, Man Sinner juga dikenal dengan kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan. Single Bumi Menangis yang pernah mereka rilis ulang dalam versi unplugged menjadi bukti bahwa mereka mampu menghadirkan sisi reflektif di balik energi skate punk.
Buitenstage malam itu menjadi saksi bagaimana Man Sinner bukan hanya tampil, tetapi juga menyampaikan pernyataan. Bahwa musik punk bisa menjadi suara perlawanan, bisa menjadi pengingat, dan bisa menjadi penghubung antara musisi dengan audiens.
Penonton yang hadir merasakan bahwa mereka tidak sekadar menonton sebuah pertunjukan, melainkan ikut menjadi bagian dari pesan yang disampaikan. Musik Man Sinner malam itu menjadi jembatan antara panggung dan kehidupan nyata.
Dengan intensitas yang mereka hadirkan, Man Sinner sekali lagi membuktikan bahwa musik independen Indonesia memiliki kekuatan untuk menyuarakan hal-hal besar. Mereka bukan hanya band, tetapi juga suara dari generasi yang ingin perubahan. []












