Jakarta – Gelaran Boleh Gig pada Rabu, 7 Januari 2026 di Wangsa Timoer, Jakarta Selatan, kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu ruang penting bagi musik independen di ibu kota. Lima entitas musik tampil bergantian, masing-masing membawa warna dan energi yang berbeda, sekaligus memperlihatkan keragaman lanskap musik lokal.
Sebagai pembuka, Sertamerta menghadirkan nuansa akustik yang intim. Proyek musik milik Fiki Feranzi ini membawakan lagu-lagu reflektif seperti Perfeksionis dan Cermin, yang memberi ruang bagi audiens untuk merenung. Kehadiran Sertamerta menunjukkan bahwa Boleh Gig tidak hanya tentang musik yang riuh, tetapi juga tentang karya yang kontemplatif.
Energi kemudian meningkat lewat penampilan Joy Manifesto. Dengan format full band, mereka membawakan karya-karya yang sudah dikenal audiens digital, seperti Memento dan Outlier. Debut live Manusia Jahat menjadi bukti bahwa panggung Boleh Gig juga berfungsi sebagai laboratorium kreatif, tempat musisi mencoba materi baru sebelum dirilis resmi.
Valent Duga membawa dimensi emosional ke panggung. Mini album Latihan Bahagia menjadi sorotan, dengan lagu Kisah Tak Seberapa Indah yang berulang kali dinyanyikan bersama penonton. Momen penghormatan kepada Glenn Fredly lewat Akhir Cerita Cinta memperlihatkan bagaimana Boleh Gig juga menjadi ruang untuk mengenang dan merayakan warisan musik Indonesia.
Suasana kemudian bergeser ke riuh reggae saat Defitrees tampil. Dengan Dekat-dekatlah dan Bulan Menari, mereka mengajak audiens berdansa bersama. Cover Badfish dari Sublime memperlihatkan keterhubungan musik lokal dengan tradisi global, sekaligus menegaskan bahwa Boleh Gig adalah panggung lintas pengaruh.
Sebagai penutup, Musafat menghadirkan energi penuh dengan campuran reggaez ska dan hip-hop. Lagu Musafat Anthem dan Pesta membakar semangat penonton, sementara Redemption Song dari Bob Marley memberi sentuhan klasik yang universal. Penampilan mereka menutup malam dengan pesan positif lewat Tersenyumlah.
Lebih dari sekadar konser, Boleh Gig edisi awal tahun ini memperlihatkan bagaimana sebuah ruang alternatif dapat menjadi katalis bagi perkembangan musik independen. Dari akustik hingga reggae-ska, dari introspeksi hingga pesta, Boleh Gig menjadi wadah yang mempertemukan musisi dengan audiens, sekaligus memperkuat ekosistem musik lokal di Jakarta. []












