“Selama calon debitur memenuhi kriteria yang ditetapkan bank dan dalam rentang risk appetite bank tersebut, maka kredit dapat dipertimbangkan untuk disetujui.”
Pelopor.id | Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa prospek dan kelayakan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) menjadi jaminan kredit ke bank, saat ini masih dalam kajian. Khususnya terkait masalah valuasi ketersediaan secondary market, Appraisal untuk likuidasi HKI, dan infrastruktur hukum eksekusi HKI.
OJK menjelaskan, saat ini ekosistem KHI di pasar sekunder masih belum cukup kuat dan mekanisme penentuan valuasi sebuah HKI masih terbatas. Sedangkan bank, harus mengetahui berapa nilai dari barang jaminan kredit sehingga dibutuhkan peran pemerintah dan pihak terkait untuk meng-address isu tersebut.
Sehingga kegiatan pemberian kredit atau pembiayaan sepenuhnya menjadi merupakan kewenangan bank berdasarkan hasil penilaian terhadap calon debitur. Adapun argumen atau jaminan dalam penyediaan dana, baik berupa kredit maupun pembiayaan bersifat operasional, tergantung dari risk appetite bank terhadap skema dan jenis kredit serta kapasitas calon debiturnya.
Kepala eksekutif pengawas perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan, setiap bank pasti memiliki kriteria pemberian kredit masing-masing dalam proses pengajuan dan persetujuan kredit.
“Salah satu yang biasanya ada dalam risk acceptance criteria bank ialah prospek usaha dan kapasitas membayar calon debitur,” tuturnya berdasarkan keterangan resmi dikutip Selasa, (26/07/2022).
Selain itu menurut Dian, bank juga memiliki kredit scoring yang dapat digunakan untuk menganalisa kemampuan bayar calon debitur.
“Selama calon debitur memenuhi kriteria yang ditetapkan bank dan dalam rentang risk appetite bank tersebut, maka kredit dapat dipertimbangkan untuk disetujui,” tegasnya. []