Pelopor.id – Bahrain diprediksi menjadi pusat perdagangan kripto di Timur Tengah atau kawasan Asia Barat. Chief Executive Officer (CEO) CoinMENA Talal Tabbaa mengatakan, Bahrain memiliki beberapa keunggulan ketimbang Uni Emirat Arab (UEA) untuk menjadi pusat kripto.
Salah satunya, Central Bank of Bahrain (CBB), bank sentral di negara tersebut, telah menerima kripto sebagai alat pembayaran yang sah. Bahkan, CBB memberikan izin resmi bagi perbankan untuk bekerja sama dengan platform perdagangan kripto.
Tabbaa yang merupakan penduduk UEA mengaku, hal ini menjadi batu sandungan terbesar bagi negaranya untuk menjadi pusat kripto di Timur Tengah.
Selain itu, platform perdagangan kripto di Bahrain bernama Rain bahkan berhasil menembus volume perdagangan dengan nilai fantastis, yakni US$1 miliar atau setara Rp14,33 triliun (Rp14.334/dolar AS).
Gubernur bank sentral Bahrain Rasheed M. Al-Maraj, menyatakan pihaknya menjadi salah satu bank sentral pertama yang mengadopsi kripto sebagai aset yang dapat diperjualbelikan. Langkah ini, dilakukan guna merespons permintaan kripto yang berkembang di tengah masyarakat.
Hal ini, sekaligus mematahkan persepsi bahwa Uni Emirat Arab (UEA) yang bakal menjadi negara paling berpotensi untuk menjadi pusat perdagangan mata uang digital.
Izin dari CBB akan mempermudah nasabah yang memperjualbelikan kripto untuk dicairkan dalam bentuk dinar Bahrain. Ini menjadi kelebihan tersendiri bagi Bahrain, mengingat UEA tidak membiarkan hal itu terjadi di negaranya.
“Secara umum, sebagian besar kripto tidak diterima sebagai alat tukar di negara maju mana pun atau tidak untuk alat pembayaran,” tutur Central Bank of the United Arab Emirates dilansir dari CNN Rabu (23/02/2022).
Kedepannya, Bank sentral UEA tetap mewaspadai perkembangan aset digital tersebut dan akan merespons dengan regulasi yang tepat serta akan mengikuti perkembangan regulator keuangan global. []












