Pelopor.id – Credit Suisse memberi tanggapan terkait kebocoran data besar-besaran yang mengungkap kekayaan tersembunyi beberapa klien. Bank terbesar kedua di Swiss ini, membantah adanya kelalaian internal dalam hal ini.
Menurut mereka, hal-hal yang disajikan sebagian besar bersifat historis, dalam beberapa kasus sejak tahun 1940-an dan laporan tentang hal-hal ini didasarkan pada informasi parsial, tidak akurat, atau selektif yang diambil diluar konteks.
Data yang bocor itu, mencapai lebih dari 18.000 rekening bank dengan total simpanan lebih dari US$100 miliar (£73.6 miliar) yang dibocorkan seorang whistleblower kepada surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung. Data ini termasuk akun pribadi, bersama, dan perusahaan, serta yang dibuka sejak tahun 1940-an.
Hampir 50 organisasi media telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk meneliti data tersebut dan kemudian menemukan bukti rekening Credit Suisse telah digunakan oleh klien yang terlibat dalam kejahatan serius seperti pencucian uang atau perdagangan narkoba.
Namun, bank Swiss menolak menolak tuduhan dan sindiran tentang dugaan praktik bisnis bank atau kurangnya uji tuntas yang dilakukan pada Minggu, (20/02/2022).
Beberapa organisasi media seperti The Guardian dan New York Times, telah mengklaim bahwa bank tersebut membuka atau mengelola rekening untuk klien berisiko tinggi, termasuk penjahat dan individu yang terlibat dalam perdagangan manusia.
Sementara BBC melaporkan, akun perbankan Swiss yang bocor juga berisi data klien yang tidak melakukan kesalahan. Data tersebut dibagikan kepada lebih dari 40 organisasi media di seluruh dunia oleh kelompok jurnalisme nirlaba.
Yakni, Proyek Pelaporan Kejahatan dan Korupsi Terorganisir. Data tersebut, berisi rekening bank sejak beberapa dekade yang kebanyakn dibuka dari tahun 2000 dan seterusnya, meskipun data operasi bank saat ini tidak termasuk di dalamnya.
Sementara Credit Suisse, mengaku telah meninjau sejumlah besar akun yang berpotensi terkait dengan masalah yang diangkat dan menurut mereka sekitar 90 persen dari akun yang ditinjau telah ditutup atau sedang dalam proses penutupan. Adapun lebih dari 60 persennya ditutup sebelum tahun 2015 silam.
Credit Suisse juga menyatakan, tuduhan media ini merupakan upaya bersama untuk mendiskreditkan tidak hanya bank tetapi pasar keuangan Swiss secara keseluruhan, yang telah mengalami perubahan signifikan selama beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung melaporkan, sumber anonimnya menyebut motivasi mereka untuk membocorkan catatan lebih dari setahun yang lalu lantaran undang-undang kerahasiaan perbankan Swiss tidak bermoral. Dalih melindungi privasi finansial hanya menutupi peran memalukan bank Swiss sebagai kolaborator penghindar pajak.
Credit Suisse , didirikan tahun 1856 dengan nama Schweizeriche Kreditanstalt. Perusahaan ini memiliki empat divisi, yakni Perbankan Investasi, Perbankan Swasta, Manajemen Aset, dan Grup Jasa Bersama yang menyediakan pemasaran dan dukungan kepada tiga divisi lainnya.[]












