Oleh karena itu, menurut Eko Sriyanto Galgendu, agar tidak akan sia-sia, IKN harus diberi muatan nilai-nilai spiritual. Sebab nafas kehidupan suatu bangsa dan negara hanya mungkin ada karena memiliki nilai-nilai spiritual di dalamnya.
Jika tidak, maka kesunyian dan kekosongan akan terjadi kelak, atau tidak memberikan apa-apa bagi warga bangsa Indonesia yang pada dasarnya senantiasa mengedepankan nilai-nilai spiritual.
Jendral Rido membenarkan bahwa untuk membangun jiwa dan raga bangsa itu setidaknya harus seimbang. Bahkan tata urutannya pun membangun jiwa baru kemudian raga (fisik). Sehingga dapat dipahami bahwa jiwa (spiritual) bagsa itu idealnya yang terdepan untuk dilakukan,
Pemahaman terhadap konsepsi memayu hayuning bawono (merawat keagungan dunia) bisa dijadikan acuan juga, imbuh Eko Sriyanto Galgendu, sehingga kehadiran IKN dapat ikut memperindah — tidak hanya dalam arti material semara, tetapi yang lebih penting memiliki bobot spiritual.
Apalagi, dalam konteks yang lebih ideal dapat memiliki korelasi dengan siklus peralihan setiap tujuh abad yang hari ini tengah memasuki babak keempat bagi warga bangsa Nusantara yang telah bersepakat memembentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Jadi IKN pun tidak terlepas dari masalah yang manusiawi sifat dan irodatnya, utama mengenai masalah keiklasan dalam melalukan perannya sebagai manusia ciptaaan Tuhan di bumi, kata Jendral Rido Hernawan. []
Artikel opini ini ditulis oleh Jacob Ereste, Jurnalis senior sekaligus Dewan Pangarah di Atlantika Institute Nusantara.
Halaman : 1 2












