Mengenal PUMMA, Si Pendeteksi Tsunami

- Editor

Selasa, 1 Februari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelopor.id – Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) atau Inexpensive Device for Sea Level Measurement (IDSL) belum lama ini mendeteksi tsunami di wilayah Indonesia meskipun skalanya kecil dan tidak memicu kerusakan, dengan ketinggian amplitudo gelombang sejengkal (maksimum 40 cm).

Tsunami tersebut akibat erupsi Gunung Tonga di Polinesia, Samudra Pasifik. Sedangkan PUMMA dipasang di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa dan pantai barat Pulau Sumatera.

Peneliti Tsunami, Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Semeidi Husrin menjelaskan, PUMMA dilengkapi dengan sistem peringatan otomatis.

“Sehingga saat terjadi anomali muka air dan berhasil mendeteksi gelombang tsunami di Pelabuhan Perikanan Prigi (Jawa Timur) pada 15 Januari 2022 pukul 13.13 UTC (pukul 20.14 WIB) atau kurang dari 9 jam pasca letusan pulau gunung api di Tonga, persisnya 8 jam 47 menit,” ungkapnya baru-baru ini.

Semeidi memperkirakan, kecepatan dari shock waves ini mencapai kurang lebih 300 meter per detik artinya gelombang ini dapat mencapai Indonesia (8.000 km) dalam kurun waktu 7 jam.

Hal ini lah yang menyebabkan gelombang tsunami pertama (meteo-tsunami) tercatat oleh PUMMA kurang dari 9 jam pasca letusan gunung api.

“Seiring waktu, beberapa tsunami yang biasa pun akhirnya tiba di Indonesia dan terdeteksi oleh PUMMA. Hal ini menjelaskan mengapa peringatan tsunami dikeluarkan hingga 36 kali oleh PUMMA,” ungkap Semeidi.

Gelombang tsunami yang terekam jaringan PUMMA di Indonesia, lanjut Semeidi ternyata bukanlah tsunami biasa yang selama ini dipahami oleh masyarakat awam maupun oleh sebagian kalangan saintis, terutama mereka yang tidak pernah belajar mengenai fenomena tsunami yang dibangkitkan oleh aktivitas gunung api.

Ia menerangkan, Gelombang tsunami ini walaupun hanya memiliki ketinggian amplitudo sejengkal, namun dengan sangat jelas terdeteksi oleh perangkat PUMMA yang terpasang di Prigi Trenggalek yang telah mengirimkan sinyal ALERT sebanyak 36 kali secara otomatis pada peristiwa ini.

Baca Juga :   Tujuh Pelaku Pengeboman Ikan di Perairan Takalar Diamankan KKP

Analisa lebih jauh, ungkap Semeidi memperlihatkan bahwa tsunami yang terekam PUMMA akibat letusan Pulau Gunung Api Tonga terdiri dari dua tipe gelombang tsunami yaitu ‘meteo-tsunami’ akibat adanya gelombang kejut (shockwave) dari letusan gunung api yang menjalar di atmosfer dan berinteraksi dengan permukaan laut.

“Dan tsunami ‘biasa’ yang menjalar dari sumbernya secara hidrodinamika akibat proses terganggunya muka air di lokasi letusan gunung api tersebut,” ucapnya.

IDSL/PUMMA sendiri, telah terpasang di 8 lokasi yaitu Pulau Sebesi, Marina Jambu, Pangandaran, Pelabuhan Sadeng, Pelabuhan Prigi, Palabuhan Ratu, PPS Bungus, dan TPI Tua Pejat Mentawai.

IDSL merupakan hasil kerja sama antara Pusat Riset Kelautan BRSDMKP KKP dengan JRC the European Commission, Badan Informasi Geospatial (BIG), Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATsI) dan institusi-institusi lainnya di Indonesia.

Data dan sistem peringatan IDSL sudah masuk ke jaringan BMKG sebagai otoritas peringatan dini tsunami di Indonesia.

“Beroperasinya IDSL selama tiga tahun dan keberhasilannya dalam mendeteksi tsunami Tonga serta kejadian-kejadian sebelumnya membuktikan kinerja yang sangat baik sebagai alternatif penguatan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia,” tandas Semeidi.

Selain itu, IDSL juga memiliki kelebihan yaitu harga yang murah, mudah dibuat, mudah dipasang, murah dan mudah dalam perawatan, memanfaatkan jaringan infrastruktur eksisting, melibatkan masyarakat dan dapat diproduksi di Indonesia dan didukung secara internasional.

“Untuk saat ini, IDSL sebagian besar dipasang di fasilitas milik KKP dalam hal ini pelabuhan perikanan yang faktanya berada di garis terdepan dalam mendeteksi fenomena tsunami,” pungkas Semeidi. []

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth Diduga Terobos Jalur Transjakarta dan Maki Polisi
Jakarta International Pet Show 2026 Siap Hadir di NICE PIK 2
Aston Villa Siap Panaskan GBK Lawan Indonesia All Stars
Klinik Utama GP+ Medical & Paincare Resmi Dibuka di Kebon Jeruk, Jakarta
Bank Jakarta Salurkan Bantuan Untuk Sahabat Disabilitas Binaan YaSDI
Bank Jakarta Kembali Dukung Program Mudik Gratis Pemprov DKI Jakarta
Dorong Transaksi Non Tunai, Bank Jakarta Dukung Sistem Pembayaran pada Bazar Jakarta Prime Ramadan 2026
Aksi Kolektif Wartawan Musik di KLBB Festival Bagikan Takjil di Program Dari Media Untuk Semua

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 19:50 WIB

Donne Maula Rilis Harum, Lagu Tentang Alasan Tetap Berjuang

Sabtu, 11 Juli 2026 - 20:36 WIB

INDAHKUS Makin Cegil di Single Baru Bertajuk Bentar Lagi Sayang

Sabtu, 11 Juli 2026 - 01:41 WIB

Eks Gitaris ERK, Reza Ryan Perkenalkan Proyek Solo Kantusfirmus Lewat Bintang Magnolia

Jumat, 10 Juli 2026 - 20:47 WIB

Project Pop Bakal Rayakan 30 Tahun dengan Konser di Tennis Indoor Senayan, Jakarta

Selasa, 7 Juli 2026 - 15:05 WIB

Unit Skatepunk Man Sinner Lepas Single Kembali, Representasi Aksi Comeback

Senin, 6 Juli 2026 - 02:36 WIB

Daftar Harga Tiket Konser Kahitna 40 Tahun Jakarta 2026

Senin, 6 Juli 2026 - 00:11 WIB

Daftar Harga Tiket Konser UNGU di Senayan Resmi Diumumkan

Minggu, 5 Juli 2026 - 22:22 WIB

Kahitna Rayakan 40 Tahun Lewat Konser Nostalgia di PIK 2

Berita Terbaru