Pelopor.id | Era disrupsi telah mendorong para pemimpin di berbagai sektor untuk mengubah praktik kepemimpinan agar keberlanjutan organisasi terjaga.
Demikian disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy saat menjadi pembicara dalam webinar bertema Leadership Transformation in Technology, Millenial and Pandemic Disruption, Sabtu (18/12/2021).
“Cara berpikir luwes dan adaptif, serta berani membuat terobosan itu telah dipraktikkan oleh Presiden Joko Widodo pada masa awal Indonesia menghadapi pandemi,” kata Muhadjir.
Menurut Muhadjir, selain luwes dan adaptif, seorang pemimpin juga harus memiliki sifat filantropis, empati dan altruis, agar organisasi bisa dinamis dan berkelanjutan. ”Tanpa ketiga sifat itu, kemampuan seorang pemimpin belumlah lengkap,” ucapnya.
Salah satu contoh kebijakan pemerintah yang mengadopsi konsep ini adalah tidak dilakukannya lockdown saat pandemi. Namun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang kemudian berubah jadi Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Menurut Muhadjir, kebijakan tersebut membuat dunia mengakui Indonesia sebagai salah satu negara yang berhasil mengendalikan penyebaran Covid-19. Pasalnya, kasus positif berangsur menurun dan angka kasus meninggal dunia juga semakin sedikit.
Walaupun fokus pada penanganan pandemi bersama kementerian dan lembaga, Kemenko PMK tetap menyadari bahwa pandemi juga mengancam pelayanan kesehatan dasar. Terkait hal itu, Kemenko PMK tetap menggalakkan program penanganan stunting dan program lain yang terkait dengan sumber daya manusia. []
Baca juga: Menko PMK Minta Adanya Kerja Bakti Rutin Saat Kunjungi Kampung Nelayan Kumuh Papua












