Pelopor.id – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menyampaikan bahwa untuk tahun 2022 ada beberapa prospek kerja sama yang telah dibahas bersama Grab Indonesia. Diantaranya melanjutkan kerja sama data/insight, agar kebijakan yang akan diambil dapat tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat waktu.
Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno menyebutkan, bahwa data akan mempermudah dalam mengambil suatu kebijakan yang very practical. Misalnya ada satu daerah yang ternyata menjadi salah satu destinasi unggulan tapi kekurangan restoran Padang.
“Karena kita memiliki data sehingga memberikan kemudahan untuk menghadirkan kebijakan yang memang dibutuhkan di lapangan,” tuturnya dalam pertemuan dengan Pihak Grab Indonesia di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (15/14/2021).
Sandiaga Uno menjelaskan, berdasarkan data yang diperoleh, wisatawan nusantara yang berkunjung membutuhkan kuliner yang biasa mereka konsumsi seperti ayam geprek, bakso, kopi kekinian, hingga minuman boba. Menurutnya, paling tidak dalam waktu dua di hari pertama kunjungan, wisatawan mencari makanan lokal.

Potensi kolaborasi yang bisa dilakukan selanjutnya adalah upskilling kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM). Grab sendiri lanjut Sandiaga memiliki program travel ambassador, dimana para pelaku parekraf nantinya akan menjadi duta pariwisata di kota masing-masing. Program ini sejalan dengan Kemenparekraf/Baparekraf untuk memperkuat narasi mengenai suatu destinasi atau produk ekonomi kreatif.
“Lalu, program stimulus Bangga Buatan Indonesia, seperti yang kita lakukan kemarin, yaitu Beli Kreatif Lokal. Untuk tahun 2022 Kemenparekraf sendiri mendapat tugas pada bulan November,” tegasnya.
Kolaborasi ini, merupakan bagian dari upaya pemerintah bersama dunia usaha untuk segera memulihkan sektor pariwisata dan ekonomi sehingga lapangan kerja dapat terbuka.
Baca juga : Kemenparekraf Salurkan Bantuan bagi Korban Bencana Erupsi Gunung Semeru
Dalam kesempatan yang sama, President Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata, mengatakan banyak perubahan yang terjadi selama masa pandemi pada perilaku wisatawan.
Misalnya, bagi generasi milenial lebih mencari destinasi atau sentra ekonomi kreatif yang lebih spesifik. Namun secara umum di masa pandemi wisatawan lebih banyak mencari wisata yang open space.
“Tentunya saya terbuka untuk membuat satu atau dua sampel agar memudahkan Pak Sandi dan jajaran untuk memiliki data base, sehingga tindakan yang diambil dapat optimal,” tandasnya. []












