Pelopor.id – Ketua Persatuan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI)-NTB, Ni Ketut Wolini mencium gelagat kotor Kepala Dinas Perhubungan NTB, Lalu Mohammad Faozal yang mencoba melakukan tindakan adu domba dengan tujuan ingin menggagalkan sejumlah program pariwisata dan event World Superbike (WSBK) yang siap digelar 19-21 November 2021 nanti.
“Ini namanya adu domba. Saya keberatan anggota PHRI dipanggil secara personal dan tidak mengundang kami melalui induk organisasi. Dan hotel di Lombok bukan cuma 20 itu saja.”
Menurut Wolini, Gelagat Faozal ingin memecah belah pelaku industri pariwisata di Lombok terlihat saat Pihak Dinas Pariwisata (Dispar) NTB mengadakan rapat untuk mempersiapkan strategi mensukseskan program WSBK. Pada waktu yang bersamaan, Faozal juga memanggil 20 pengelola Hotel untuk sosialisasi shutle bus.
“Ketika PHRI harus hadiri undangan rapat Kadispar Senin kemarin (25/10/2021). Kami sedang menyiapkan strategi mensukseskan program WSBK yang sebentar lagi digelar. Kami sedang rapat dengan pihak MGPA yang difasilitasi Kadispar di kantor Dinas Pariwisata NTB. Ehhh….dalam hari, waktu dan jam yang sama Pak Faozal, panggil 20 management hotel ke kantornya,” tutur Wolini, Senin malam (25/10/2021) di Senggigi.
Wolini, menilai sikap Faozal itu sebagai tindakan adu domba dan membuatnya tersinggung.
“Saya pribadi dan secara organisasi, sangat tersinggung. Ini namanya adu domba. Saya keberatan anggota PHRI dipanggil secara personal dan tidak mengundang kami melalui induk organisasi. Dan hotel di Lombok bukan cuma 20 itu saja,” tegas pengusaha sukses di Lombok tersebut.
- Baca juga : Sapta Nirwandar: WSBK Mandalika 3 Hari, Mesti Karantina 8 Hari Siapa yang Mau?
- Baca juga : Trubus Rahadiansyah Menduga Ada Pihak yang Diuntungkan dari Kebijakan Naik Pesawat Wajib PCR
Keyakinan Wolini soal gelagat Kadishub Faozal ingin menggagalkan event WSBK dan program pariwisata lainnya semakin menjadi, setelah anggota PHRI yang hadir dalam rapat dengan Waloni melaporkan bahwa kedatangan mereka ke sana, cuma mendengarkan sosialisasi shutle bus.
“Ini kan gak jelas. Dan apa hubungannya anggota PHRI di undang cuma untuk sosialisasi shutle bus. Ini kan gak bener, mengadu domba anggota PHRI namanya,” tandas Wolini.
Wolini menegaskan, sah-sah saja bila mengundang siapapun termasuk anggota PHRI, tapi harus dengan etika dan harus sesuai tupoksinya.
“Kaitannya shutle bus dengan anggota PHRI apa? Ini kan ada gelagat tidak baik. Kami mau berkoordinasi untuk urusan WSBK malah diam-diam anggota kami diminta datang untuk sosialisasi shutle bus. Kan merusak namanya,” pungkas Wolini.

Ketua ASITA NTB, Dewantoro Umbu sependapat dengan Wolini dan menurutnya sikap Faozal tidak fair.
“Waduh, gak bener cara yang dilakukan Pak Faozal. Itu kurang fair. Ngapain coba, urusan shutle bus sosialisasinya ke anggota PHRI,” tanya Dewantoro.
Dewantoro pun menyarankan, agar Faozal mengurus mana yang menjadi bagian tugasnya sebagai Kepala Dinas Perhubungan.
“Kan banyak yang diurus. Truk-truk dan angkot yang mati KIR -nya. Kemacetan di pasar Ampenan karena cidomo, angkot dan truk yang oper kapasitas, jembatan timbang. Dan masih banyak lah yang lain-lain yang lebih pas dengan bidang tugasnya. Biarlah urusan pariwisata jadi domain dispar,” saran Dewantoro.

Terkait hal ini, Kadishub NTB, Lalu Mohammad Faozal menerangkan bahwa dirinya memanggil 20 orang manajemen hotel untuk membahas uji petik untuk kebutuhan transportasi dalam event WSBK.
“Apa yang di bahas kemaren uji petik untuk beberapa hotel terkait skenario lalu lintas untuk beberapa hotel. Sehingga bisa di sepakati berapa kebutuhan moda transportasi di saat event WSBK. Silahkan di tanya teman-teman managemen hotel yang hadir apa yang dibahas. Atau tanya ke Ketua Organda saja,” sebut Faozal melalui pesan Whatsapp menjawab pertanyaan Pelopor.id. []












