Mengenal Lele Mutiara “Bermutu Tiada Tara”

- Editor

Selasa, 17 Agustus 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lele Mutiara. (Foto:Pelopor.id/KKP)

Lele Mutiara. (Foto:Pelopor.id/KKP)

Pelopor.id | Jakarta –  Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) selaku Unit Eselon I Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), berperan merealisasikan kampung perikanan budidaya dengan mengembangkan beragam kampung perikanan. Salah satunya Kampung Lele di Desa Sumurgede, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat sejak Juni 2021.

Karawang, merupakan daerah potensial dalam mengembangkan budidaya perikanan. Tercatat pada tahun 2018, Karawang memiliki 18.275,00 hektare tambak, 1.088,80 hektare kolam air tenang, serta 148 unit kolam jaring apung.

Hal ini, menunjukkan bahwa Karawang bukan hanya Kota Industri, tetapi juga memiliki potensi perikanan budidaya dengan penghasilan yang cukup besar, dengan keuntungan berkisar antara Rp5 juta sampai Rp13 juta dalam berbudidaya lele.

Meski demikian, bukan sembarang lele yang dibudidayakan di Kampung Lele Desa Sumurgede, melainkan lele Mutiara (Bermutu Tiada Tara) yang merupakan strain unggulan hasil penelitian Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI).

Proses pemuliaan lele Mutiara telah dilakukan sejak tahun 2015 dengan melewati serangkaian uji coba. Lele Mutiara dihasilkan dari seleksi persilangan empat strain lele Afrika yang ada di Indonesia yakni, lele Mesir, lele Phyton, lele Sangkuriang, dan lele Dumbo.

Lele Mesir, yang merupakan lele hibah dari mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat, memiliki keunggulan berupa daya tahan yang kuat terhadap penyakit dan lingkungan serta keseragaman ukurannya yang tinggi, namun pertumbuhan dan fekunditasnya relatif rendah.

Lele Phyton merupakan koleksi dari Model Pembenihan Ikan Lele (MPIL) Mojokerto, memiliki keunggulan berupa pertumbuhannya yang cepat dan bagus serta efisiensi pakan yang tinggi, namun tingkat keseragamannya rendah, sifat kanibalismenya tinggi, dan lebih rentan terhadap penyakit.

Sedangkan lele Sangkuriang yang merupakan koleksi dari Balai Pengembangan Budidaya Air tawar (BPBAT) Cijengkol memiliki keunggulan berupa fekunditas yang tinggi dan daya adaptasinya terhadap lingkungan budidaya yang baik, namun rentan terhadap penyakit serta tingkat pertumbuhannya yang relatif rendah.

Baca Juga :   Kejagung Mengaku Pemberantasan TPPO Terkendala Birokrasi dan Bekingan Aparat

Baca juga: Menteri Trenggono Pastikan Laut Indonesia Bebas Cantrang

Sementara lele Dumbo yang diperoleh dari pembenih lokal, merupakan populasi pelengkap dengan performa moderat. Dari keunggulan masing-masing tersebut didapatkan 1 strain baru (lele Mutiara) hasil persilangan empat strain tersebut selama 3 generasi pada karakter pertumbuhan.

Lele Mutiara ini pun telah dilepaskan ke masyarakat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 77/KEPMEN-KP/2015. Keunggulan dari lele Mutiara adalah:

  1. Laju pertumbuhan tinggi berkisar 10-40 persen lebih tinggi daripada jenis lain.
  2. Lama pemeliharaan singkat, dimana pembesaran benih tebar berukuran 5-7 cm atau 7-9 cm dengan padat tebar 100 ekor/m2 berkisar 40-50 hari, sedangkan pada padat tebar 200-300 ekor/m2 berkisar 60-80 hari.
  3. Keseragaman ukuran relatif tinggi, tahap produksi benih diperoleh 80-90 persen benih siap jual dan pemanenan pertama pada tahap pembesaran tanpa sortir diperoleh ikan lele ukuran konsumsi sebanyak 70-80 persen.
  4. Rasio konversi pakan (FCR = Feed Conversion Ratio) relatif rendah, antara 0,6-0,8 pada pendederan dan 0,8-1,0 pada pembesaran.

Selain itu, Lele Mutiara juga memiliki daya tahan yang relatif tinggi terhadap penyakit dengan sintasan (SR = Survival Rate) pendederan benih berkisar 60-70 persen pada infeksi bakteri Aeromonas hydrophila (tanpa antibiotik). Ikan unggulan ini juga memiliki produktivitas relatif tinggi pada tahap pembesaran, mencapai 20-70 persen lebih tinggi daripada benih-benih strain lain.

Dari hasil uji lapang juga menunjukkan hasil yg konsisten (stabil). Benih lele Mutiara memiliki performa pertumbuhan dan parameter-parameter produktivitas yg selalu lebih tinggi (unggul) serta keuntungan usaha 2-9 kali lipat daripada benih-benih pembandingnya, sehingga sesuai untuk digunakan dalam usaha pembesaran di berbagai lokasi dan sistem pembesaran. []

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Lomba Desa Wisata Nusantara dan Lomba Literasi Budaya Desa Tahun 2024
Gandeng Damkar Bantaeng, Huadi Group Gelar Latihan Tanggap Darurat
Didukung Huadi Group dan Pemda Bantaeng, Taekwondo Optimis Raih Medali
AHY di WWF 2024: Masyarakat Dunia Harus Atasi Kelangkaan Lahan dan Air
Warga Bantaeng Akui Gerak Cepat Huadi Group dan Kodim 1410 Lewat Program RTLH
Huadi Group Berbagi Berkah Tiap Jumat, Jemaah Masjid: Alhamdulillah
Kata Adang Daradjatun Soal Sindikat Penjualan Narkoba dalam Kemasan Makanan
Bantu Korban Kebakaran di Sinoa, Huadi Group Salurkan Bantuan

Berita Terkait

Rabu, 17 Juli 2024 - 17:19 WIB

Promo Khusus Pelajar dan Mahasiswa, Synchronize Festival 2024 Hadirkan Tiket Student Card

Kamis, 11 Juli 2024 - 19:55 WIB

We The Fest 2024 Edisi Anniversary Siap Digelar di GBK Jakarta

Rabu, 10 Juli 2024 - 23:12 WIB

Satu-satunya di Asia Tenggara, Neck Deep Bakal Manggung di The Sounds Project 7

Rabu, 10 Juli 2024 - 22:35 WIB

Emma Elliot Manggung Bareng Vagetoz dan Sun Of Monday di Swag Event

Jumat, 5 Juli 2024 - 14:55 WIB

Daniel Rumbekwan, Efek Rumah Kaca, hingga VoB Ikut Lokakarya IKLIM

Kamis, 4 Juli 2024 - 21:14 WIB

Bless The Knights Perkenalkan Single Agathos Saat Tur Sulawesi Selatan

Kamis, 4 Juli 2024 - 13:22 WIB

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Bakal Manggung di Pestapora 2024

Rabu, 3 Juli 2024 - 16:36 WIB

Djakarta Warehouse Project 2024 Bakal Hadir di 13, 14, dan 15 Desember

Berita Terbaru