Pelopor.id | Dalam Agenda Pembangunan Nasional tahun 2022-2024, Pemerintah memprioritaskan program peningkatan ketersediaan, akses serta kualitas konsumsi pangan. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah mendorong pengoptimalan budidaya Padi Gogo di berbagai daerah.
Padi Gogo dipilih karena merupakan jenis padi yang dapat ditanam pada areal lahan kering, atau biasa disebut dengan padi tegalan. Selain itu, budidaya Padi Gogo juga menjadi solusi dalam pemanfaatan bekas lahan perkebunan dan dapat diaplikasikan di daerah bercurah hujan rendah.
Hingga saat ini, berbagai provinsi di Indonesia telah melakukan budidaya Padi Gogo, salah satunya Lampung.
Dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Provinsi Lampung, Sabtu (12/02/2022), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyaksikan langsung panen perdana Padi Gogo pada Proyek Penelitian Padi Gogo milik PT Huma Indah Mekar (HIM) di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung.
“Kami mengapresiasi panen perdana Padi Gogo ini yang tentunya menggunakan sentuhan teknologi dan uji coba. Padi Gogo ini diharapkan dapat terus memberikan hasil yang positif dan dapat terus didorong, terutama di lumbung pangan yang airnya terbatas,” kata Airlangga, dikutip dari situs resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi padi Provinsi Lampung pada tahun lalu mencapai 2.472.587 ton Gabah Kering Giling (GKG) dan mempunyai share sebesar 4,47 % terhadap produksi nasional, dengan produktivitas 50,40 kw/ha. Khusus Kabupaten Tulang Bawang Barat, produksi padi pada periode itu mencapai 30 ribu ton GKG.
Pada kesempatan itu, Airlangga mendorong pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat untuk membangun pertanian dari hulu hingga hilir yang lebih berdaya saing dengan produktivitas tinggi. Selain itu juga dengan menggunakan benih unggul dan pengaplikasian mekanisasi pertanian, sehingga mampu swasembada pangan dan berkontribusi positif bagi perekonomian nasional.
“Indonesia sebetulnya dalam 3 tahun terakhir kita tidak pernah impor beras, jadi sebenarnya kita dalam 3 tahun terakhir swasembada beras. Dan bahkan sekarang beras kita relatif aman, kita akan masuk musim panen yang bisa mendapatkan 14 sampai 15 juta ton. Kita juga sudah mendapat permintaan negara lain untuk impor beras dari Indonesia,” tandasnya.[]












