Pelopor.id – Gunung Tambora terletak di ujung utara Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan berada di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Tambora, yang merupakan taman nasional ke 51 di Indonesia.
Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rilisnya menyebut, letusan Dasyat Gunung Tambora telah melenyapkan tiga kerajaan yakni Pekat, Sanggar dan Tambora. Peradaban di seputar Tambora pun musnah.
Lenyapnya tiga kerajaan diketahui setelah Vulkanolog asal Rhode Island University AS, Haraldur Sigurdsson menggali bebatuan dan abu vulkanik hingga kedalaman tiga meter hingga akhirnya menemukan sisa permukiman, pecahan tembikar dan kayu yang telah menjadi arang (terkarbonisasi).
Ia menyebutnya sebagai “Pompeii dari Timur”. Sebutan itu, mengacu pada situs kota Romawi Kuno, Pompeii, dekat Napoli, Italia, yang terkubur oleh letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi.
Sementara jumlah korban tewas akibat letusan itu diperkirakan mencapai 92.000 jiwa. Jumlah ini, belum termasuk kematian yang melanda Eropa dan Amerika, yang turut merasakan dentuman keras Tambora.
Sedangkan peneliti di Pusat Vulkanologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Igan S Sutawijaya mengatakan, letusan Gunung Tambora sangat dahsyat, dengan semburan asap setinggi 33 sampai 43 kilometer dengan volume materi mencapai 150 km kubik abu dan 25 km kubik awan panas.

Dentuman saat Gunung Tambora meletus terdengar hingga 2.600 km, abu mencapai jarak 1.300 km dan menyebabkan endapan aliran piroklastik (awan panas) setebal 7 meter sampai 20 meter di area ratusan km persegi dengan volume endapan 5,7 km kubik.
Ia juga menyebut, Tambora menimbulkan gelombang tsunami satu sampai empat meter sepanjang pantai sejauh 1.200 km. Tsunami tersebut juga sampai di Maluku dengan tinggi gelombang dua meter.
Tinggi puncak Tambora sebelum letusan mencapai 4.300 m di atas permukaan laut, tetapi saat ini puncak tertingginya hanya 2.850 m dengan garis tengah 60km dan kaldera (kawah) bergaris tengah 7 km dengan kedalaman 1.100 m yang merupakan kaldera terdalam di dunia.
Abu vulkanik dari letusan itu, juga membuat dua benua yang dipisahkan samudera di dera kelaparan. Pada 1816, atau sekitar setahun setelah letusan , Eropa dan Amerika melewati tahun tanpa musim panas atau dikenal sebagai “Year without Summer”.
Dimana cuaca di kawasan tersebut berubah total akibat partikel abu dari letusan gunung berapi yang masih membungkus atmosfer bumi sehingga menghalangi sinar matahari menerobos ke permukaan tanah.

Musim paceklik pun melanda Kanada, Amerika Serikat (AS), Inggris, dan lainnya. Udara beku yang terjadi di sejumlah negara tersebut menghapus impian petani untuk memanen hasil kebun mereka. Akibatnya, penduduk pun kekurangan bahan makanan.
Irlandia mengalami dampak terparah dimana negara tersebut mengalami curah hujan dan cuaca dingin yang terjadi hampir sepanjang musim panas.
Fenomena alam setelah letusan Tambora menyebabkan sekitar 65.000 orang mati kelaparan dan terkena wabah tipus. Wabah ini kemudian menyebar ke Eropa dan menewaskan 200.000 orang.
Bahkan kekalahan Napoleon Bonaparte pada perang Waterloo, diyakini sebagai dampak tak langsung letupan Tambora. Pemicunya adalah musim dingin yang panjang dan kegagalan panen.
Saat itu, Napoleon sedang melakukan perang di Belgia. Ia mengalami kekalahan terhadap negara sekutu yaitu Inggris, Belanda, dan Jerman, akibat cuaca ekstrem dampak gunung Tambora. []












