GMKI: Banjir Palembang Akibat Drainase dan Pengolahan Sampah Buruk

Banjir Palembang
Pengendara terobos banjir di Jalan Ahmad Yani. (Foto: Pelopor.id/Erwin Setiawan)

Pelopor.id | Jakarta –  Ketua BPC GMKI Palembang, Fajar Sihombing menilai, banjir yang terjadi di beberapa titik daerah di kota Palembang pada kamis, (2/9/2021) malam lantaran sistem drainase dan pengolahan sampah yang buruk.

“Belum ada keseriusan Walikota Palembang, Harnojoyo dalam membenahi serta memelihara sistem drainase.” 

“Sistem drainase dan pengolahan sampah yang buruk menjadi penyebab utama banjir. Selain itu, pompa air belum berjalan maksimal untuk menangani banjir,” tutur mahasiswa UNSRI ini berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Pelopor.id, Jumat, (3/9/2021).

Fajar Sihombing
Ketua BPC GMKI Palembang, Fajar Sihombing. (Foto:Pelopor.id/GMKI)

Akibatnya, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama lebih dari 1 jam, banjir pun terjadi dan menyebabkan ruas jalan menjadi macet total, menimbulkan kerugian ekonomi, serta mengganggu aktivitas pendidikan.

Bacaan Lainnya

Fajar menjelaskan, konstruksi drainase yang ada tidak dapat menampung debit air saat hujan. Selain itu, drainase dibawah trotoar juga tidak memiliki inlet sehingga air menggenang dibawah jalan.

“GMKI Palembang menilai belum ada keseriusan Walikota Palembang, Harnojoyo dalam membenahi serta memelihara sistem drainase, ” tegas Fajar.

Sejumlah Wilayah di Palembang Terendam Banjir Setelah Hujan Seharian

Selain drainase yang buruk, Fajar Sihombing juga menyoroti jumlah sampah di Palembang yang mencapai 1.200 ton per hari.

“Jumlah ini sangat besar, jika tidak dikelola akan menjadi beban masyarakat di masa mendatang karena mencemari ekosistem dan lingkungan,” sebut Fajar.

Baca Juga :   GMKI: Airlangga Hartarto dan Erick Thohir Tak Fokus Tangani Pandemi

Oleh sebab itu, GMKI Palembang mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Selain itu, GMKI Palembang menyampaikan kepada Pemkot Palembang untuk menghadirkan teknologi pengolahan sampah ramah lingkungan seperti pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).

Sementara salah satu persoalan dalam pengolahan sampah adalah retribusi yang dikelola tidak akuntabel dan transparan sehingga pendapatan pemerintah minim. Sehingga menurut Fajar, harus dibenahi agar retribusi yang didapat dari pengolahan sampah di Palembang bisa lebih maksimal. []

Pos terkait