Sektor Kelautan dan Perikanan Surplus Neraca Dagang 27 T

Hasil Kelautan dan Perikanan
Ilustrasi Hasil Kelautan dan Perikanan. (Foto:Pelopor/KKP)

Pelopor.id | JakartaSektor kelautan dan perikanan mencatatkan kinerja positif selama 5 bulan pertama tahun ini. Bahkan neraca perdagangan sektor ini surplus sebesar USD1,9 miliar atau setara dengan Rp27 triliun. Angka ini naik 3,72% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Peningkatan nilai ekspor Indonesia didorong adanya peningkatan permintaan di beberapa negara tujuan ekspor utama, terutama di pasar AS,”

Secara kumulatif, nilai ekspor produk perikanan pada Januari hingga Mei 2021, mencapai USD2,1 miliar. Angka ini naik 4,94% dibanding periode yang sama tahun 2020. Hal ini diungkapkan Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Artati Widiarti saat melihat data BPS 480 kode HS 8 digit produk perikanan.

“Ini suatu hal yang patut kita syukuri dan membuat kita semakin yakin bahwa sektor kelautan dan perikanan bisa menjadi pengungkit ekonomi di masa pandemi,” tuturnya di Jakarta, Senin, (28/6/2021).

Bacaan Lainnya

Tingginya nilai ekspor berasal dari komoditas utama meliputi udang yang menyumbang sebesar USD865,9 juta atau 41,0% terhadap total nilai ekspor total. Selanjutnya tuna–cakalang–tongkol sebesar USD269,5 juta atau 12,7% dari total nilai ekspor dan cumi–sotong–gurita sebesar USD223,6 juta atau 10,6% dari total nilai ekspor.

Hasil Kelautan dan Perikanan
Ilustrasi Hasil Kelautan dan Perikanan. (Foto:Pelopor/KKP)

Disusul rajungan–kepiting sebesar USD191,5 juta (9,1%), rumput laut sebesar USD115,1 juta (5,4%) dan layur sebesar USD38,0 juta (1,8%).

Adapun negara tujuan ekspor utama adalah Amerika Serikat (AS) sebesar USD 934,1 juta atau 44,2% terhadap total nilai ekspor total disusul Tiongkok sebesar USD311,2 juta (14,7%), dan negara-negara ASEAN sebesar USD230,7 juta (10,9%).

Baca Juga :   Hari Guru Nasional, Jokowi: Mari Bersama Pulihkan Pendidikan

Lalu Jepang sebesar USD225,1 juta (10,6%), Uni Eropa sebesar USD102,0 juta (4,8%), dan Australia sebesar USD45,1 juta (2,1%).

“Peningkatan nilai ekspor Indonesia didorong adanya peningkatan permintaan di beberapa negara tujuan ekspor utama, terutama di pasar AS,” rinci Artati.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP, Machmud mengungkapkan, merujuk data ITC Statistics-Trademap, selama periode Januari-April 2021 nilai impor produk perikanan AS meningkat sebesar 16,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Demikian pula Australia dan Rusia masing-masing meningkat sebesar 27,8% dan 10,8%.

“Kita perlu menangkap peluang dari meningkatnya permintaan di negara-negara tersebut,” sebutnya.

Jika nilai ekspor mencapai miliaran dolar, Machmud memastikan nilai impor kumulatif produk perikanan Indonesia periode Januari-Mei 2021, hanya USD198,3 juta.



Lebih lanjut Machmud menjelaskan komoditas yang diimpor di antaranya tepung ikan sebesar USD43,5 juta atau 21,9% dari total nilai impor hingga salmon-trout sebesar USD14,6 juta atau 7,4% dari total nilai impor. Guna meminimalisir impor tersebut, Machmud mengajak para pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing produk dalam upaya mensubtitusi produk impor.

“Ikan kita banyak dan jenisnya beragam, ikan lokal kita tak kalah dan bahkan lebih unggul daripada ikan impor, baik dari kandungan gizi dan manfaatnya,” tandas Machmud. []

Pos terkait